Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Sampaikan Pesan Ini

Gambar
Bila mataku tertutup nanti Bila mulutku terkatup terkunci Bila nafasku terhenti Bila aku mati, Katakan pada Ibuku, Aku pernah memecahkan kaca matanya, lalu menyembunyikan pecahan itu di balik lemari kamar Dan tak mengaku hingga akhirnya ibu memutuskan untuk membeli yang baru Katakan pada Ayahku, Aku pernah mencuri beberapa lembar uang ribuan di dompetnya Lalu memasukkannya ke dalam celengan yang beberapa hari setelah itu hilang entah ke mana Katakan pada kakak pertamaku, Aku pernah memakai sepatu cantiknya yang berwarna pink itu dan membawanya bermain ke tengah hutan mencari capung Terpeleset, dan sepatu itu rusak Lalu aku mengembalikannya diam-diam dan tak mengaku. Katakan juga pada kakak keduaku, Aku pernah menyembunyikan buku pelajaran sekolahnya karena merajuk dimarahi olehnya waktu itu Hingga esok hari ia terpaksa tak mengikuti pelajaran karenaku Dan aku [diam-diam] menangis menyesal. Katakan pada adik sulungku, Aku meminta maaf karena pernah mengusirnya s

Senyum Bulan Tanpa Mata Malam Ini

Gambar
Barusan aku mengangkat jemuran Melihat ke atas, ke langit hitam Ada yang bersinar begitu tegas Ya, bulan. Bulan malam ini tampak pucat Mungkin ia telah berhari-hari tidak tidur karena langit terus menginginkannya Lalu langit menutup pagar agar ia tak kemana-mana Jadilah ia kurang istirahat sekarang Tapi, bulan tetap terlihat indah dalam netraku Walau ku tahu, sinarnya palsu. Dia berbentuk seperti ini: D Kau tinggal memutar D ini ke arah kanan 90 derjat Sempurna! Ya, memang seperti itu rupanya sekarang. Aku menyaksikannya dengan diam haaa, otakku mulai menerjemahkannya asal-asalan Kau ingin dengar apa yang ada di pikirku kala menatap bulan? Aku pikir bulan tengah tersenyum lebar tanpa mata Karena tak ada sepasang bintang di atasnya Dia tertawa saat mengetahui ini adalah hari terakhirnya menyinari tahun 2011 Karena esok, jika saja Tuhan memberinya kesempatan hidup dan bersinar kembali Dia sudah bertemu dengan bulan yang lain, Januari. Kau tahu kenapa dia terta

Desember Berakhir

Gambar
Ini tanggal 31 Orang-orang sibuk menyiapkan acara tahun baru Ada yang berencana pergi bersama kekasih Ada yang membuat bermacam makanan untuk dinikmati sendirian Ada yang mengumpulkan terompet untuk ditiup bersama anak-anak Ada yang berjalan tak menentu keluyuran entah kemana Ada yang menangisi sepi Ada yang mentertawakan ramai Tapi bagiku, ini bukan tahun baru, dan tidak akan ada perayaan Desember memang akan berakhir Dan besok adalah januari Hanya sebatas itu :Pergantian bulan Aku tak mencoba membuat acara apapun Aku tak mencoba menelpon siapapun Aku tak mencoba merayakannya di manapun Aku hanya mencoba menangis Karena belum bisa membakar keramaian tahun baru ini Dan lagi-lagi hanya bisa menyesali, kenapa semakin lama acara tahun baru semakin meriah saja?

Saat Aku Pikun Nanti

Gambar
Kepikunan nenek mengajarkanku satu hal: Bahwa bumi memang berputar Tak ada yang terhenti pada satu waktu, pasti berlanjut! Dan semua dari kita haruslah tua. Aku tahu bukan salah nenek menjadi pikun seperti ini Nenek hanyalah bagian dari keniscayaan Tuhan Dan semua juga tahu, bahwa ingatan akan berkarat, lebih cepat dibanding pipa besi bawah tanah. Nenek tidak memberitahuku apapun Dia cukup menunjukkan lewat pertanyaan-pertanyaan sama yang dia lontarkan setiap satu kali dua menit Yang terus berulang-ulang tanpa ia tahu telah menanyakannya sebelumnya. Nenek belum mati Tapi ingatannya serupa mati. Aku selalu dibuat tersenyum dengan kepikunannya yang menggemaskan itu Hendak hati ingin bertanya, kenapa nenek selalu lupa? Tapi aku menjawab pertanyaanku sendiri dengan tertawa Apa aku perlu jawabannya? Nenek... Karenamu aku jadi terdiam sekarang Berpikir dan mencoba menebak Akankah aku menjadi sepertimu suatu hari nanti? Ah, aku hanya berharap.. Berharap untuk suatu

Tentang Ini

Gambar
Coba kau hitung ada berapa kali kau sebut namaku di doamu, Tuan. Sudahkah matamu menangis saat mengadukan pengharapan kepada Tuhan demi kebersamaan kita? Aku tahu kau belum hafal wajahku, pun namaku Tapi ku tahu hatiku dan hatimu telah lama terpaut, bahkan sebelum kau pandai berdoa Aku tahu kau tak tahu alamat rumahku, jadi kau bingung akan mencariku ke mana Tapi ku tahu kakimu jauh lebih pandai mengambil langkah Aku tahu kau masih memberi dirimu dan juga diriku waktu: Untuk pembenahan, perbaikan, juga pelayakan Jadi aku tak menuntut cepat AKU HANYA MEMINTA, JANGAN TERLAMBAT!

Warna Waktu

Gambar
Waktu semakin lama semakin meyakinkanku bahwa dia memiliki warna Sekarang dia tengah berwarna hijau tua Dan aku tahu, tak lama lagi dia akan mencoklat lalu hitam Di satu hari nanti di entah bulan ke berapa dan tahun berapa Waktu akan memastikan mataku menyaksikan wajahnya berubah menjadi warna coklat Dan di saat itulah aku yang menyaksikan ini tak lagi berdiri di tanah yang sama Aku tak lagi sendiri dengan menyembunyikan senyum, Akan ada satu teman yang ku ajarkan dia cara melihat warna waktu Adalah kamu... Maukah kau ku ajari cara melihat warna waktu? Kemarilah, mendekat lebih dekat.. Baca garis pohon tempatku bersandar menunggumu ini Ada berapa ratus garis? Warnanya berubah setiap kali melewati garis ke seratus: Kuning, hijau muda, hijau tua, coklat, dan hitam Hijau tua itu sekarang Coklat itu pertemuan kita Dan hitam adalah ujung waktu. [Kapan waktu akan berujung?] :Jadi, ada berapa lama lagi waktu yang harus aku curi dari hijau tua ini menuju coklat, Tuan?

DESEMBER Kita~

Gambar
Pagi ini, Ku temukan diriku tengah terpaku Menghadap selembar kalender kusam bertuliskan DESEMBER Yang dengan raut tolol bertanya pada guratan kertas 'Bukankah terlalu cepat?' Rasanya Januari baru saja permisi ke belakang Uh! DESEMBER begitu tergesa-gesa menyusul! Akhirnya, ku putuskan untuk menghitung Ini DESEMBER ke berapa, ya, sejak perkenalan kita? Sudah berapa kali musim penghujan lalu kemarau lagi? Tapi di manakah berada penuntasan yang ku nantikan itu? Kira-kira, Pada tahun berapa ia disembunyikan ibu waktu? Pada kisah seperti apa ia akan menggoreskan lagu? Dan pada senyuman semanis apa ia akan menjadikanku malu? Aah, Aku benar-benar ingin melihatmu berdiri di akhir janji itu Tempat kau tersenyum megah menyombong lalu bersorak, "Aku menang! Aku menang mendapatkan halalmu, Sayang" Kemudian kau gamit tangan lungsaiku yang lelah menampung hujan menunggumu... Eh, cerita tentang hujan kita bukankah belum usai? Kau masih ingat? Ya, ku y

FEBRIA RAHMI

F = Fantasi beriring mimpi melambaikan lamunanku, kawan E = Entah sejak kapan aku menjadi lebih suka sendiri bersama mereka B = Berbantah-bantahan dengan nyata yang menyudutkanku di pojok keremangan ini R = Resah menunggu perwujudan ilusi ke dalam duniaku I = Indah sekali, bila harapan-harapan itu menyapa pandanganku A = Amboi, seakan hidup ini ingin ku habiskan ribuan tahun lagi R = Rentangan waktu yang ku lalui mungkin terlalu panjang, ya… A = Amukan ambisi menguap entah ke ruangan mana di tengah padang kehilangan H = Haruskah aku berlari mengejar mereka untuk kembali? M = Meski ku tahu, kekuatanku bahkan tak mampu membuat kakiku berdiri tegak I = Isakan tertahan akhirnya aku bebaskan, lalu biarkan mereka terbang menuju hati-hati lain yang lebih tegar menampung…

Titik Wajahmu

Keadaan ini akhirnya memaksaku untuk berhenti di sebuah titik Setelah aku memohon untuk bertahan di garis putus-putus Setelah aku habiskan banyak peluh dan airmata untuk tidak jatuh Dan akhirnya, ya, aku terhenti Pada satu titik yang walau ku tahu bukanlah akhir Di dalam satu kedipan yang berubah pejam Aku membayang sebuah uluran tangan Dengan sumringah senyuman Dan sapaan hangat mengagumkan Masih di titik yang sama Titik tempatku terpaksa berhenti sendirian Aku membuka mata pada langit Aku membuka telinga pada suara Aku membuka khayal pada satu wajah ya, wajah yang menyusulku berlari kecil pada titik ini Aku temukan! Aku tak menyesal bila harus bertemu banyak titik lagi...

Bukan Hari Ibu...

22 Desember Orang menyebut hari ini, hari Ibu... Aku tertawa... Bodoh! Kalian pikir jasa ibu dapat diperhitungkan hanya dalam satu hari? Lalu hari-hari sisanya akan melupakan bahwa Ibu itu Ibu? Di hari-hari sisanya akan sepele untuk membentak, menghardik, mengatur, dan bermuka masam, hah? Tidak, Bu... Aku akan menjadikan seluruh hariku sebagai harimu Karena bukankah kau selalu ibu bagiku?

Sendiri Menyepi - nya Edcoustic :')

Gambar
 Sendiri menyepi.. Tenggelam dalam renungan Ada apa aku seakan kujauh dari ketenangan? Perlahan kucari, mengapa diriku hampa Mungkin ada salah, mungkin ku tersesat, Mungkin dan mungkin lagi… Oh Tuhan aku merasa Sendiri menyepi Ingin ku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi Sampai kapan ku begini Resah tak bertepi Kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala Benderang di hidupku.. Perlahan kucari, mengapa diriku hampa Mungkin ada salah mungkin ku tersesat, Mungkin dan mungkin lagi Oh Tuhan aku merasa Sendiri menyepi Ingin ku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi Sampai kapan ku begini Resah tak bertepi Kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala Oh Tuhan aku merasaaa... Sendiri, aku merasa sendiri.. Sampai kapan begini Resah tiada bertepi Oh.. Kuingin cahyaMu Benderang di hidupku... :') Terima kasih, Teruntuk semua personil edcoustic yang telah sukses membuatku menangis malam ini...

Genggam Tanganku Lebih Erat Lagi

Gambar
Tanyakan saja pada angin Mengapa setiap pagi dia suka sekali berhembus menembus jendela kamarmu itu? Kenapa hembusannya begitu anggun tiap kali melewati wajahmu Seakan ia ikut terpesona pada keindahan senyummu Ya, karena senyum yang kau hadiahkan setiap hari padaku memang begitu indah Aku takut berdosa bila tak mengakuinya... Oh, sahabatku yang berlian hatinya Aku benar-benar tak ingin sendiri menghadapi dunia yang semakin kejam ini Maka genggamanmulah, ukhti Yang ku harap kan menguatkan dan mengokohkan Lihatlah! Lihatlah satu titik di depan sana Kita akan bersama-sama menujunya... Kita akan berjalan searah Kita akan satu langkah! Ya! Ayo genggam tanganku lebih erat lagi Sungguh, aku tak ingin berlepas dan terlepas Karena kehilanganmu lebih menyakitkan daripada kehilangan waktu istirahat di masa-masa sibukku Dan karena kehilanganmu tak akan tergantikan oleh sahabat seribu bidadari mana pun jua...

Ya, Ku Sebut Ini Kegilaan Bertahap

Gambar
Tak usah kau simpan sakitmu itu Ku mohon, bagilah denganku.. Aku pun ingin menjadi tempat berbagimu, meski untuk hal-hal kecil Biarlah, akan ku berikan sebagian bahkan seluruh waktuku jika perlu untuk menampung ceritamu.. Sini, ceritakan.. Apa yang ada di hatimu? Apa yang ada di pikirmu? Apa yang menjadi sebab gundah gulanamu? Mengapa akhir-akhir ini kau sering bermurung? Kamu sakit? *** Bas! Di saat seperti ini, aku - entah kenapa - suka berbicara sendiri. Berusaha menenangkan diri sendiri Membayangkan ada yang berbicara seperti kalimat di atas dengan penuh kelembutan padaku Duduk di sampingku dan memintaku bercerita tentang semua Lalu dengan begitu peduli menanyakan kesehatanku... Oooh...! Mungkin inilah yang orang sebut kegilaan bertahap atas nama kesepian... *huaaaaa, apakah aku benar-benar sudah mulai gila?! Tolooooooooong...!

Aku Hanya Punya Satu Jawaban Tentangmu

Gambar
Bila kau tanya aku lelaki seperti apa yang aku inginkan. Aku hanya punya satu jawaban. Jawaban sederhana bahkan teramat sederhana. Aku tak meminta ia harus berwajah tampan. Tidak! Karena aku sadar bahwa ketampanan itu akan luruh bersama waktu. Aku tak meminta ia harus memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Tidak! Karena aku sadar bahwa kecerdasan sama sekali tidak menjamin kebahagiaanku. Aku tak meminta ia harus berasal dari keluarga yang baik. Tidak! Karena aku sadar bahwa taqwa tak bisa diturun temurunkan. Aku tak meminta ia harus shalih. Tidak! Karena aku sadar bahwa aku bukanlah wanita shalihah. Aku tak meminta ia harus kaya dan punya banyak uang. Tidak! Karena aku sadar bahwa kekayaan hanyalah titipan dan akan berakhir bila Tuhan meminta pengembalian. Aku tak meminta ia harus memiliki jabatan yang tinggi. Tidak! Karena aku sadar bahwa jabatan di dunia tidak akan dibawa mati. Dan aku tak meminta ia harus berkepribadian sempurna juga berhati mulia. Tidak! K

Tentang Ketertawanan

Gambar
<3 Orang-orang berbicara tentang kebebasan Bagaimana menghabiskan hidup dengan kesenangan Atau bagaimana menamkan saham untuk keuntungan bernama uang Tapi aku membicarakan tentang ketertawanan Ketertawanan atas nama cinta dan pengabdian PadaMu, Maha Rahman Ketertawanan indah penuh keikhlashan Hanya demi keridhaan ya, hanya! Wahai Tuhan yang selalu sibuk Beritahu aku agar tak bosan menetapi kesabaran Karena jiwa pengkhianatku terkadang ingin berpaling kepada syaithan hambaMu yang penuh kedengkian Dan karena aku manusia lumpur hitam yang berlumur kotoran Oh, Tuhan... Orang-orang berbicara tentang kesenangan Tapi aku masih bersabar dalam perjuangan panjang... ya! Hidupku adalah perjuangan, untuk bertahan dalam ketertawanan Tidak untuk kebebasan dan kesenangan tanpa keridhaan! Benar, kan, iman?

Aku Ingin Pulang, Bu...

Gambar
"Aku rindu rumah" hmm... Mungkin kalimat ini begitu jarang aku ungkapkan. Tapi kali ini, aku benar-benar rindu... Konyol mungkin bila aku mengeluhkan hal ini, karena semua juga tahu bahwa rumah dan kontrakanku hanya berjarak 2 jam perjalanan. Tapi justru karena jarak yang pendek itu, aku merasa sangat bersalah karena tak mengunjungimu Satu bulan lebih, aku tak menginjakkan kaki di ubin putih rumah kita Satu bulan lebih, aku tak tidur dengan selimut usang merahku Satu bulan lebih, aku tak mengecap enaknya makananmu Satu bulan lebih, aku tak menjahili adik-adikku Satu bulan lebih, aku tak mencium tangan halusmu Satu bulan lebih, aku tak memanjat pohon jambu di samping rumah kita Satu bulan lebih, aku tak mendengar omelanmu menyuruhku makan Oooh, di sini tak ada yang memarahi kelalaianku untuk makan, bu. Tak ada! Benar yang engkau bilang, bu... Suatu hari nanti aku pasti akan merindukan kemarahanmu Itu yang engkau bilang kan setiap kali aku merajuk karena ka