Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Bila Mungkin

Aku ingin menjadi pintu rumahmu, Tuan Yang kau temui setiap pagi saat kau bersiap. Meski untuk pergi. Aku biar menjadi jendela kamarmu, Tuan Yang kau salami setiap malam sebelum kau terlelap. Meski untuk sesekali. Aku rela menjadi keringat di wajahmu, Tuan Yang kau usap setiap aku ingin tinggal. Meski sebentar. Tapi bagaimanalah akan kuubah. Aku hanyalah aku yang terpisah. Jauh melebihi kesabaranku. Melebihi kekuatan yang kupaksakan. Bila engkau mau berbaik hati. Kirimilah aku sepucuk saja kabar. Bahwa aku akan kau temui. Bahwa senyumku akan kembali. Atau bila tidak. Izinkan kujahit kata terakhir yang bisa kusampaikan. Bahwa engkau adalah angka yang tak terjumlah di hatiku. Bahwa engkau adalah laut yang banjir melimpah di lamunanku. Bahwa engkau tak ubahnya huruf yang kurangkai dalam jutaan doaku. Tapi aku baik-baik saja. Aku punya genangan cerita di mataku. Yang akan kututup ke sebalik pejaman. Dan aku punya wajahmu di ingatan. Yang akan kukubur dalam. Ke seba

Bahkan Kamu Takkan Mampu

Aku hendak menitipkan rindu pada entah siapa Biar lapang dadaku untuk sebentar saja Mungkin pada awan yang biasa dititipi air mata langit Atau pada ombak yang marah mendeburi batu tanpa sakit Aku hendak menitipkan rindu pada entah siapa Biar kering pipiku, biar terang wajahku Mungkin pada bulan yang terbiasa menangis saat kelam menenggelamkan bintang Mungkin pada hujan yang datang sebagai basah untuk memeluk tanah yang tak selalu terjamah Aku hendak melupakanmu untuk satu pejaman saja Agar aku tak lupa bagaimana nyenyaknya rebah dan tenangnya lamun Akan kubayar meski dengan helaian terakhir rambutku Tapi tidak akan. Aku tahu aku tak bisa menitipi siapapun rindu ini Karena tak akan kuat. Tak akan kuat. Awan akan kehilangan putih kelabunya Ombak akan pecahkan semua yang ditemuinya Bulan terbelah, dan hujan membeku. Biar aku. Bahkan kamu takkan mampu.