Abaikan Saja

Aku sering berpikir, bagaimana rasanya menjadi benda lain. Bagaimana rasanya menjadi langit luas yang harus berubah perasaan setiap saat, bahkan seperti dua wajah, hitam lalu putih.
Bagaimana rasanya menjadi embun di pagi hari, yang harus patuh untuk luruh dilalap cahaya matahari, bahkan tak sempat berkenalan dengan siang.
Bagaimana rasanya menjadi laut, bergelombang lalu kembali lagi, menyimpan milyaran benda bergerak di kedalaman, bahkan tak boleh berteman dengan daratan.
Bagaimana rasanya menjadi burung, terbang pagi pulang petang, menemui sarang yang anak-anaknya mungkin telah dicuri binatang garang, bahkan tak bisa mampir di daratan dalam waktu yang panjang.
Bagaimana dan bagaimana.

Lalu kulihat cermin yang memantulkan sketsa wajah. Bahkan aku sempat berpikir, apakah benar wajah yang ada di cermin adalah wajah yang sesungguhnya? Bagaimana jika cermin-cermin di dunia bekerjasama untuk membuat tipuan. Bagaimana jika sebenarnya, wajah kita lebih cantik atau lebih buruk dari yang selalu diberitahukan?

Tidak tidak. Terlalu banyak berpikir membuatku tertawa gila. 
Abaikan saja.

Bergegaslah Menuju Tuhanmu..

Aku tak pintar matematika, Tuhan. Tak bisa kuhitung apa yang Kau berikan.
Aku juga tak pandai sejarah, tak sanggup kukaji ulang sejauh mana perjalanan yang Kau reka.

Oh, tidak!
Bahkan jika aku pintar matematika, seperti kataMu, meski seluruh pohon dijadikan pena, dan lautan adalah tintanya, lalu ditambahkan dengan yang serupa jumlahnya, masih belum cukup untuk menghitungnya.
Biarpun aku ahli sejarah, takkan bisa kutuliskan satu persatu dari keseluruhan kisah yang Kau ciptakan di bukuku.

Dosa, lupa, dan sengaja, berwarna-warni dalam lukisan kedurhakaanku. Mengikir kaburkan iman, Tapi tetap saja, tidak pernah absen nikmat untukku.
Tiada kuragui, Tuhan. Bahwa Engkau dan kehambaanku bagai kutub yang terkadang menjauh kadang mendekat. Terkadang tolak dan ulur, kadang pasang lalu surut.
Maka bagaimanalah caranya aku mampu memujiMu? Sedang tidak ada kata yang wujud mewakilinya.
Dan ya, pujian untukMu adalah sebagaimana Engkau memuji diriMu sendiri.

Sedang aku adalah hamba, berdiri di antara sorga dan neraka. Berat ke kanan di lain waktu ke kiri. Dengan tongkat yang sedikit demi sedikit lapuk oleh dosaku sendiri. Memaksaku untuk bergerak cepat. Jangan sampai kehilangan pegangan. Bergegaslah!


Kala Halal Adalah Namaku

Bagai cahaya seribu bulan, berkerlap-kerlip di hatiku. Menembus batas toleransi, bahwa kau terlalu terang, bahkan menyilaukan.
Ada sekat bertabur kawat yang tak berani kusentuh, meski saat jaraknya seujung kuku.
Dan aku termangu menyaksikan betapa tinggi menjulang apa yang ada padamu, bahkan dongakan leher terjauhku tak sanggup menangkap puncakmu.

Wahai engkau dengan sejuta pesona, yang senyumnya dirindui bidadari sorga, aku bukanlah wanita gila yang menyebut namamu tak terhingga dalam igauanku. Aku juga bukanlah wanita hina yang sampai hati menggoda iman dan kesucianmu. Aku hanyalah aku yang berharap bahwa doa berulang adalah seperti kayuhan sepeda yang meskipun lama, ia akan mengantarkanku suatu hari ke stasiunmu.

Maka berilah aku waktu untuk menaklukkan cahaya seribu bulan itu, beri aku masa untuk mencabut satu persatu sekat pembatas antara kau dan aku. Hingga suatu hari, kumiliki kesempatan untuk terjun bebas ke kedalaman senyumanmu, kala namaku adalah halal, bagimu.

Pecah Memecah Pecahan

Ini semacam bongkahan memuakkan yang pecah berkeping berserakan di tiap milimeter hatiku
dan tetiba datang siraman air panas kebencian
Mengguyur melepuhkan hingga tiada
Lalu aku pun luruh dalam pana
Gayung-gayung yang tadi pagi kugunakan untuk mandi, kini berisi air asin dari mataku
Menggenang hingga besok malam.
Dan masih bertambah hingga melimpah.
Hei, lihat. Gayungnya pecah.

Lihatlah Betapa Hebatnya Aku

Mega, langit, dan matahari
Turunlah menyapa dataran busuk di bawah kakiku
Kalau bukan karena gravitasi, telah kususul lebih tinggi dari pencapaianmu...

Rumput, air, dan tanah
Menyingkirlah dari jalan lapangku
Aku akan menari bersama sulit, susah, dan payah
Diiringi musik bayu beraroma darah
Dengan nada terendah pemanggil gerah..

Ayolah!
Ceritakan padaku betapa hebatnya diriku menarikan tembang kesedihan ini
Lihatlah gores di kaki
Dan sayat di lengan kanan dan kiri
Tidakkan akan kau puji?
Bahwa akulah pemeran terbaik dalam permainan bernama "Bunuh Diri Sendiri"?

Ibuuu...

Jika November dan hujan bagai hitam dan malam, atau seperti pohon dan hutan. Maka aku di sini menunggu gelombang menyelesaikan tamparan. Menunggu badai menghabiskan kencang.

Ibu, jika November dan hujan adalah satu, bolehkah aku merindumu yang ada dalam diriku?
Bila cinta dan hangatmu masih menyisakan jejak-jejak kisah di sekujur tubuhku, bolehkah aku berteriak memanggil kebahagiaan yang dibawa jarak rumah dan aku?

Aku menghitam dibakar matahari, Bu. Menunggu kereta yang membawa datang peti mati pengubur haru. Menunggu kereta yang membawa pulang jasad pucatku menujumu.

Bila sakit dan rintih adalah padu. Maka reda hanyalah namamu...

Lagu-lagu Rembulan

Lagu-lagu yang kau dendangkan sepanjang jalan kita bertemu, masih menjadi meja yang kuletakkan kursi di depannya, kuletakkan tangan di atasnya, untuk menulis berlembar-lembar puisi tentangmu.

Aku lupa kau pernah berkata bahwa rindu tidak boleh terlalu larut digenggam, dan cinta tak boleh setiap hari kukenakan. Tapi siapa yang peduli dengan perkataanmu.

Jika kau memang peduli pada hati yang kini telah berlubang-lubang dikikisi namamu, kenapa tak sejak awal kau katakan padaku untuk tak menatap rembulan di wajahmu.
Rembulan yang malam demi malam tidak pernah tertutup awan, yang tak membiarkanku tidur sepicing pun demi melihat cahayanya, cahaya yang membutakan.

Jadi kau ini adalah rembulan yang menyanyikan lagu di sepanjang jalan malam yang kulalui menuju rumah, sepulang sekolah. Sekolah yang mengenalkan padaku tentang bulan. Sekolah yang melatih tanganku menulis namamu, dan yang mengajariku mengulang-ulang lagu itu.

Lagu, yang sejak pertama hingga entah kapan akhirnya masih menjadi telinga, mata, dan mulutku.


Buat Aku Mengerti.


Buat apa berpaling ke belakang?
Mereka bilang seperti itu.

Tapi bolehkah sebentar kulihat untuk memastikan ia tak lagi menoleh?
Agar tenang hatiku berjalan, bahwa tak ada harapan yang boleh dipegang.

Aku paham, tapi hati tidak mau mengerti.

Dear, Komunikasi.

Komunikasi layaknya rangkaian kata.
Betapapun indah dan mengalir, ia tetap butuh spasi, butuh jeda, butuh waktu untuk kosong.
Karena bila tanpa, akan gagu menerjemahkannya, akan sulit menangkap keanggunannya, akan bosan membacanya.

Selamat, komunikasi kini telah tiada.
Mungkin kita memang butuh spasi selamanya.