Bila Mungkin

Aku ingin menjadi pintu rumahmu, Tuan
Yang kau temui setiap pagi saat kau bersiap. Meski untuk pergi.

Aku biar menjadi jendela kamarmu, Tuan
Yang kau salami setiap malam sebelum kau terlelap. Meski untuk sesekali.

Aku rela menjadi keringat di wajahmu, Tuan
Yang kau usap setiap aku ingin tinggal. Meski sebentar.

Tapi bagaimanalah akan kuubah. Aku hanyalah aku yang terpisah.
Jauh melebihi kesabaranku. Melebihi kekuatan yang kupaksakan.

Bila engkau mau berbaik hati. Kirimilah aku sepucuk saja kabar.
Bahwa aku akan kau temui.
Bahwa senyumku akan kembali.

Atau bila tidak. Izinkan kujahit kata terakhir yang bisa kusampaikan.
Bahwa engkau adalah angka yang tak terjumlah di hatiku.
Bahwa engkau adalah laut yang banjir melimpah di lamunanku.
Bahwa engkau tak ubahnya huruf yang kurangkai dalam jutaan doaku.

Tapi aku baik-baik saja. Aku punya genangan cerita di mataku.
Yang akan kututup ke sebalik pejaman.
Dan aku punya wajahmu di ingatan.
Yang akan kukubur dalam. Ke sebalik kenangan.

Selamat malam. Tuan.


Bahkan Kamu Takkan Mampu

Aku hendak menitipkan rindu pada entah siapa
Biar lapang dadaku untuk sebentar saja
Mungkin pada awan yang biasa dititipi air mata langit
Atau pada ombak yang marah mendeburi batu tanpa sakit

Aku hendak menitipkan rindu pada entah siapa
Biar kering pipiku, biar terang wajahku
Mungkin pada bulan yang terbiasa menangis saat kelam menenggelamkan bintang
Mungkin pada hujan yang datang sebagai basah untuk memeluk tanah yang tak selalu terjamah

Aku hendak melupakanmu untuk satu pejaman saja
Agar aku tak lupa bagaimana nyenyaknya rebah dan tenangnya lamun
Akan kubayar meski dengan helaian terakhir rambutku

Tapi tidak akan.
Aku tahu aku tak bisa menitipi siapapun rindu ini
Karena tak akan kuat. Tak akan kuat.

Awan akan kehilangan putih kelabunya
Ombak akan pecahkan semua yang ditemuinya
Bulan terbelah, dan hujan membeku.

Biar aku.
Bahkan kamu takkan mampu.

Sulam Selam Kenangan

Aku menyulam, lalu menyelami kenangan
Aku merajut, kemudian mengenakan
Aku menjahit senyuman demi senyuman
Tapi pada akhirnya, aku di sini, menangis tenggelam.

Duhai engkau yang berenang di deras air mataku
Telah lama aku merangkak dalam gelap rindu
Ke manakah kau sembunyikan cahaya wajahmu
Tunjukilah aku sewaktu-waktu
Aku takut buta bila layu.

Erat kudekap,
Memunguti yang terserak
Puing demi puing
Kutunggui sinar yang redup
Dengan kaki tersimpuh melepuh
Biar, kutanggungi kepedihanku
Kuusap sendiri sungai di wajahku
Asal, kau bawa kembali harapan yang kubayang siang dan malam
Asal, kau siram tanaman demi tanaman yang bernamakan dirimu, di halaman penantian
Asal, kau hantarkan segenap kebahagiaan yang kupertaruhkan sepanjang perjalanan.


Gagap Gugup Gempita

Yang terdengar hanya detak detik jantungku
Seperti palu memukul-mukul kayu
Bohong jika kubilang aku tak gugup
Saat itu, aku bahkan takut bersuara, khawatir kau akan mendengar ia bergetar
Aku takut tersenyum, khawatir senyumanku berubah canggung.

Tahukah, saat dirimu berjalan di depanku dan aku di belakangmu, kutatap bayangan kita
Mengukur-ukurnya agar jangan terlalu dekat, takut tak kuat.
Sesekali merapal doa, mengirimnya ke langit diam-diam, takut kau dengar.
Kemudian aku akan pura-pura kepanasan, atau kelelahan, atau apa saja saat kau menoleh.

Ini mungkin seperti kegugupan Hawa saat pertama bertemu Adam di Surga
Kegugupan yang ingin kuulang jutaan kali lagi
Tidak peduli wajahku yang memerah karena malu
Atau langkahku kikuk terlihat lucu
Atau tawaku sumbang karena bertingkah ragu..
Oh diriku, berlakulah biasa saja agar ia tak tahu!

Bahwa perasaanku bercampur berwarna warni, lebih indah dari pelangi, lebih sejuk dari awan, lebih membahagiakan daripada saat kau bubar sekolah di sore hari
Yang jika kugambarkan dengan satu kata, akan kupilih kata pulang,
mewakili segala cinta, kerinduan, dan segenap kebahagiaan
Ketukan pintu penuh buncah, menunggu, lalu pelan seseorang membukakannya untukmu, dengan tangan terbuka dan sambutan terhangat. Apa yang lebih indah dari itu?



Aku hujan yang akan selalu pulang

Aku mencintaimu bagai titik titik hujan yang pecah di tanah, menyelusup lewat celah dan kembali pada laut yang terangkat beruap menuju langit, lalu turun lagi dan tak bosan melaui siklus yang sama berjuta-juta masa.

Maka kaukah itu yang mengintip dari balik jendela, menyanyikan tembang bernada rendah sesayup bunyi ketukanku di halaman rumahmu. Jika beruntung, kau akan bersedia menari bersama basah dengan senyum termanis yang pernah kutatap sepanjang jalan yang kulaui menuju ke mari.

Wahai, yang merindu sepanjang malam menyebut namaku. Aku hujan yang akan selalu pulang. Aku dicipta untuk menyiram halaman halaman. Perjalananku terkadang lebih panjang dari igauan igauan. Jadi bersabarlah dalam mencintaiku.
Aku tidak pernah khianat. Kecuali jika Tuhan jadikan bumimu kemarau.
Ya. Jika kemarau mengingankanmu, cobalah mencintainya juga. Aku tidak apa-apa.


Halaman Persembahanku

Allah, Tuhanku...
Kalau bukan karena kuasa dan kehendakMu,
takkan sampai aku di sini, di ujung perjalanan panjang yang gelap dan mendaki.
Tak terhitung berapa kali aku tergopoh bangkit dengan luka-luka di kaki,
hingga tak mampu lagi kubedakan antara keringat dan airmata di pipi.
Tapi Engkau sungguh Maha, menjadikan mungkin semua yang tak kurasa bisa,
memudahkan apa yang kupikir sulit.
Hingga akhirnya, hanya Engkau yang tahu betapa aku bersyukur,
telah Engkau bukakan gerbang kelulusan ini bagiku,
Segala puji hanya milik Engkau, Allahku...

Untumu, Ayah dan Ibu...
Jemariku sulit menggores, lidahku kelu berucap,
karena sungguh tak bisa kugambar dengan benar betapa besar rasa syukurku kepada Allah yang telah menjadikan Engkau sebagai orangtuaku,
Sungguh tiada lain tiada bukan, aku kuat karena mengharap senyum di kedua wajah yang kukasihi.
Berharap sedikit saja dapat kubalas dari segenap pengorbananmu selama ini.
Meskipun sekali-kali tidak, seujung kuku pun tak terbalas.
Tapi biar, kujadikan ini persembahan awalku, sebagai langkah pertama menuju kebanggaan lagi dan lagi, di dunia dan akhirat nanti. Insya Allah.
Terimakasih Ayah, terimakasih Ibu, untuk segenap cinta dan doa.

Kepadamu, adikku...
Yang telah menjadi sekitar bagi berjuanganku.
Menjadi sahabat, penasehat, pemberi solusi serba bisa, dan penyemangat.
Aku tahu, Allah tentu mengirimmu sebagai pelengkap yang kurang, penggenap yang ganjil, dan penuntas yang camping dari diriku.
Terimakasih seadanya untuk semuanya.

Dan teruntuk, diriku sendiri...
Terimakasih, karena tetap semangat, tetap kuat, tetap optimis.
Terimakasih untuk tidak menyerah.
Terimakasih karena telah menyandarkan segalanya hanya kepada Allah.
Kamu tahu betul betapa urusan dunia ini berkantor di langit.
Maka tepat sekali, jika lamaran-lamaran harapan ditujukan ke atas, bukan ke sekitar.
Tetaplah seperti ini.

Bayanganmu sendiri bahkan bukanlah milikmu, dia milik cahaya.



Abaikan Saja

Aku sering berpikir, bagaimana rasanya menjadi benda lain. Bagaimana rasanya menjadi langit luas yang harus berubah perasaan setiap saat, bahkan seperti dua wajah, hitam lalu putih.
Bagaimana rasanya menjadi embun di pagi hari, yang harus patuh untuk luruh dilalap cahaya matahari, bahkan tak sempat berkenalan dengan siang.
Bagaimana rasanya menjadi laut, bergelombang lalu kembali lagi, menyimpan milyaran benda bergerak di kedalaman, bahkan tak boleh berteman dengan daratan.
Bagaimana rasanya menjadi burung, terbang pagi pulang petang, menemui sarang yang anak-anaknya mungkin telah dicuri binatang garang, bahkan tak bisa mampir di daratan dalam waktu yang panjang.
Bagaimana dan bagaimana.

Lalu kulihat cermin yang memantulkan sketsa wajah. Bahkan aku sempat berpikir, apakah benar wajah yang ada di cermin adalah wajah yang sesungguhnya? Bagaimana jika cermin-cermin di dunia bekerjasama untuk membuat tipuan. Bagaimana jika sebenarnya, wajah kita lebih cantik atau lebih buruk dari yang selalu diberitahukan?

Tidak tidak. Terlalu banyak berpikir membuatku tertawa gila. 
Abaikan saja.

Bergegaslah Menuju Tuhanmu..

Aku tak pintar matematika, Tuhan. Tak bisa kuhitung apa yang Kau berikan.
Aku juga tak pandai sejarah, tak sanggup kukaji ulang sejauh mana perjalanan yang Kau reka.

Oh, tidak!
Bahkan jika aku pintar matematika, seperti kataMu, meski seluruh pohon dijadikan pena, dan lautan adalah tintanya, lalu ditambahkan dengan yang serupa jumlahnya, masih belum cukup untuk menghitungnya.
Biarpun aku ahli sejarah, takkan bisa kutuliskan satu persatu dari keseluruhan kisah yang Kau ciptakan di bukuku.

Dosa, lupa, dan sengaja, berwarna-warni dalam lukisan kedurhakaanku. Mengikir kaburkan iman, Tapi tetap saja, tidak pernah absen nikmat untukku.
Tiada kuragui, Tuhan. Bahwa Engkau dan kehambaanku bagai kutub yang terkadang menjauh kadang mendekat. Terkadang tolak dan ulur, kadang pasang lalu surut.
Maka bagaimanalah caranya aku mampu memujiMu? Sedang tidak ada kata yang wujud mewakilinya.
Dan ya, pujian untukMu adalah sebagaimana Engkau memuji diriMu sendiri.

Sedang aku adalah hamba, berdiri di antara sorga dan neraka. Berat ke kanan di lain waktu ke kiri. Dengan tongkat yang sedikit demi sedikit lapuk oleh dosaku sendiri. Memaksaku untuk bergerak cepat. Jangan sampai kehilangan pegangan. Bergegaslah!


Kala Halal Adalah Namaku

Bagai cahaya seribu bulan, berkerlap-kerlip di hatiku. Menembus batas toleransi, bahwa kau terlalu terang, bahkan menyilaukan.
Ada sekat bertabur kawat yang tak berani kusentuh, meski saat jaraknya seujung kuku.
Dan aku termangu menyaksikan betapa tinggi menjulang apa yang ada padamu, bahkan dongakan leher terjauhku tak sanggup menangkap puncakmu.

Wahai engkau dengan sejuta pesona, yang senyumnya dirindui bidadari sorga, aku bukanlah wanita gila yang menyebut namamu tak terhingga dalam igauanku. Aku juga bukanlah wanita hina yang sampai hati menggoda iman dan kesucianmu. Aku hanyalah aku yang berharap bahwa doa berulang adalah seperti kayuhan sepeda yang meskipun lama, ia akan mengantarkanku suatu hari ke stasiunmu.

Maka berilah aku waktu untuk menaklukkan cahaya seribu bulan itu, beri aku masa untuk mencabut satu persatu sekat pembatas antara kau dan aku. Hingga suatu hari, kumiliki kesempatan untuk terjun bebas ke kedalaman senyumanmu, kala namaku adalah halal, bagimu.

Pecah Memecah Pecahan

Ini semacam bongkahan memuakkan yang pecah berkeping berserakan di tiap milimeter hatiku
dan tetiba datang siraman air panas kebencian
Mengguyur melepuhkan hingga tiada
Lalu aku pun luruh dalam pana
Gayung-gayung yang tadi pagi kugunakan untuk mandi, kini berisi air asin dari mataku
Menggenang hingga besok malam.
Dan masih bertambah hingga melimpah.
Hei, lihat. Gayungnya pecah.