Lagu-lagu Rembulan

Lagu-lagu yang kau dendangkan sepanjang jalan kita bertemu, masih menjadi meja yang kuletakkan kursi di depannya, kuletakkan tangan di atasnya, untuk menulis berlembar-lembar puisi tentangmu.

Aku lupa kau pernah berkata bahwa rindu tidak boleh terlalu larut digenggam, dan cinta tak boleh setiap hari kukenakan. Tapi siapa yang peduli dengan perkataanmu.

Jika kau memang peduli pada hati yang kini telah berlubang-lubang dikikisi namamu, kenapa tak sejak awal kau katakan padaku untuk tak menatap rembulan di wajahmu.
Rembulan yang malam demi malam tidak pernah tertutup awan, yang tak membiarkanku tidur sepicing pun demi melihat cahayanya, cahaya yang membutakan.

Jadi kau ini adalah rembulan yang menyanyikan lagu di sepanjang jalan malam yang kulalui menuju rumah, sepulang sekolah. Sekolah yang mengenalkan padaku tentang bulan. Sekolah yang melatih tanganku menulis namamu, dan yang mengajariku mengulang-ulang lagu itu.

Lagu, yang sejak pertama hingga entah kapan akhirnya masih menjadi telinga, mata, dan mulutku.


Buat Aku Mengerti.


Buat apa berpaling ke belakang?
Mereka bilang seperti itu.

Tapi bolehkah sebentar kulihat untuk memastikan ia tak lagi menoleh?
Agar tenang hatiku berjalan, bahwa tak ada harapan yang boleh dipegang.

Aku paham, tapi hati tidak mau mengerti.

Dear, Komunikasi.

Komunikasi layaknya rangkaian kata.
Betapapun indah dan mengalir, ia tetap butuh spasi, butuh jeda, butuh waktu untuk kosong.
Karena bila tanpa, akan gagu menerjemahkannya, akan sulit menangkap keanggunannya, akan bosan membacanya.

Selamat, komunikasi kini telah tiada.
Mungkin kita memang butuh spasi selamanya.


Mungkin Saja,

Aku melihat aku, di dalam dirinya.

Ganji+Ganjil=Genap

Kau bilang aku ganjil?
Ya, kau juga.
Ayo mari menjadi genap ;)

70 Hal Tentang Saya yang Selama ini (Mungkin) Rahasia-

Saya yang ...

- 1 - Mencintai hujan dan yakin tak dibuat sakit. 2 - Menyukai angin yang membuat saya terlihat mempesona. 3 - Suka berbicara sendiri di kamar mandi, seolah berbincang dengan orang lain yang juga diperagakan oleh saya.  4 - Mengagumi langit bagaimanapun wajahnya. 5 - Mencintai anak-anak dan berharap memiliki sendiri. 6 - Suka perjalanan romantis kereta api walau belum sempat mencobanya. 7 - Gemar ketinggian karena semua orang sombong bisa dikerdilkan. 8 - Senang mendapatkan surat cinta dari seorang tanpa nama. 9 - Entah kenapa sangat menyukai film India. 10 - Juga penyuka warna biru.

11 - Menghindari televisi. 12 - Tidak menyukai suara atau gerak saat tidur. 13 - Membenci emosi milik saya dan orang lain kepada siapa. 14 - Tak kuat berada di posisi menyakiti. 15 - Tidak suka selederi sama sekali. 16 - Benci mendapati diri sedang merindukan seseorang yang entah bagaimana. 17 - Sangat amat memusuhi asap rokok dan penghisapnya. 18 - Membenci pengemis yang masih kuat bekerja. 19 - Tidak menyukai keramaian dan kesepian. 20 - Tidak suka diabaikan saat menangis.

21 - Sering lupa di mana menaruh kacamata, bisa lima kali sehari. 22 - Jadi begitu cerewet jika menyukai seseorang. 23 - Menjadi sangat pendiam ketika marah. 24 - Boros makan ketika stress. 25 - Mulut berubah bentuk unstopable saat gugup. 26 - Senang menggabungkan seluruh jari tangan dan meletakkannya di atas ubun ketika bingung. 27 - Bisa tidur tanpa selimut tapi tidak tanpa guling. 28 - Sekian kali mencoba menulis diary tapi selalu tidak bisa lebih dari tujuh hari. 29 - Biasa mandi dua menit karena tidak suka berlama dengan pakaian minim. 30 - Suka beli buku tapi tidak bakat selesai membacanya. 31 - Senang melompat-lompat seperti bocah. 32 - Biasa terlambat agar punya alasan berlari manja. 33 - Tidak bisa menangis karena terharu, bahagia, pun jika terlalu sedih. 34 - Sulit meminta maaf tapi mudah memaafkan. 35 - Menyukai pekerjaan yang dilakukan sekali langsung daripada lama perlahan. 36 - Jika saya tak menjawab sebuah pertanyaan berarti jawaban itu tidak menyenangkan. 37 - Hobi sekali memperhatikan seseorang diam-diam untuk sekedar menebak apa sifatnya. 38 - Tidak terbiasa teratur dalam jadwal dan waktu. 39 - Senang melucu yang tidak membuat orang lain tertawa, karena hal itu sangat lucu. 40 - Biasa menjatuh atau menumpahkan sesuatu.

41 - Bukan anak yang pintar matematika. 42 - Menyukai pelajaran bahasa. 43 - Suka membuat dan dibuatkan puisi. 44 - Pintar berbicara. 45 - Mampu membuat orang lain percaya. 46 - Berbakat merayu ketika meminta sesuatu. 47 - Berpotensi jadi artis tapi ingin jadi kameramen. 48 - Terlihat cerdas namun aslinya biasa saja. 49 - Menarik namun menyebalkan. 50 - Gampang dirindui.

51 - Suka sekali makanan asin. 52 - Senang dengan makanan gosong. 53 - Mencintai bakso super pedas. 54 - Menyukai permen yuppi dengan taburan gula di atasnya. 55 - Dan sossis yang belum digoreng. 56 - Beserta jengkol. 57 - Juga pete. 58 - Dengan minuman teh es lemon dingin. 59 - Dan segelas susu milo. 60 - Ditambah dua botol yakult.

61 - Ingin punya rumah di tepi danau agar bisa belajar berenang setiap hari. 62 - Bermimpi menginjak tanah Kashmir suatu hari nanti. 63 - Berharap pernah dan sering naik gunung, tanpa peduli paru yang memusuhi dingin. 64 - Ingin sekali tersesat dengan penuh tantangan namun selamat. 65 - Bercita-cita jadi pelukis namun tak mahir hingga berakhir di fotografi. 66 - Target menikah satu tahun dari sekarang. 67 - Dengan anak tujuh yang selisih umur tidak lebih dari dua tahun. 68 - Meninggali rumah kecil yang sempit namun nyaman agar tak ada ruang yang memisahkan. 69 - Serta satu ayunan di halaman yang bermuatan sembilan orang untuk kami duduki setiap sore sambil bercerita tentang kisah cinta ayah dan ibu. 70 - Lalu anak-anak menikah dan tahu ke mana harus pulang dari mana saja berada.


...bukanlah seorang yang memiliki kecintaan, kebencian, kebiasaan, dan harapan yang menetap karena tetap tumbuh dan bertambah hingga berubah.


Seorang Guru Bagi Mereka: Tuna.


Aku di sini, bertahun-tahun.
Mengamati, mengajari, memperbaiki, dan memperjuangkan.
Mereka bilang aku membuang banyak waktu dengan pekerjaan bergaji sedikit ini,
Mereka bilang aku membuang-buang tenaga dengan pekerjaan melelahkan ini.
Mereka bilang aku membuang masa santai dengan pekerjaan penuh tantangan ini.
Tapi aku bilang: Aku di sini, untuk mereka, juga untuk diri sendiri.

Aku percaya bahwa Tuhan menciptakanku untuk mereka, dan mereka untukku.
Aku berterima kasih karena Tuhan telah memilihku menjadi ibu bagi mereka.
Karena senyum mereka, tawa mereka, tingkah nakal mereka, adalah semangat pagi yang mengalahkan terik sang surya.

Terima kasih anak-anakku, telah mengajari ibu arti ketulusan
Terima kasih telah mengajari ibu makna keikhlasan
Terima kasih telah mengajari ibu cara menyempurnakan.
Terima kasih telah mengajari ibu lembut perjuangan.
Dan terima kasih, telah mengajari ibu symbol kehidupan.

Ya, kalian adalah kehidupan.

Langit yang Berubah Warna

Aku ingin tertawa, sekeras-kerasnya. Biar orang-orang berpikir bahwa dari mulutku ini hanya tawa yang bisa dikeluarkan. Biar orang-orang mengira aku tak pandai mengisak.

Ah, Ibu, mengapa tak pernah kau ajarkan aku kuat melawan hidup yang begitu kejam ini?
Mengapa kau tak pernah ingatkan aku bahwa orang-orang tak bisa dipercaya?
Mengapa kau tak pernah ajarkan aku cara membenci orang-orang yang mengkhianati cinta?

Aku jadi oleng, Ibu.
Oleng di atas dua kaki kurus yang puluhan tahun berlatih berdiri tegak.
Aku juga tak mengerti sejak kapan dia luka, kulihat lukanya pagi ini semakin menganga. Kurasa tak bisa diobati lagi.
Apakah aku akan lumpuh, Ibu?
Lumpuh dan tak bisa berlari lagi?
Jika di dunia ini aku tak bisa berlari, ke mana aku bisa bersembunyi dari langit yang berubah warna menjadi tidak kusukai?