Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Lagu-lagu Rembulan

Lagu-lagu yang kau dendangkan sepanjang jalan kita bertemu, masih menjadi meja yang kuletakkan kursi di depannya, kuletakkan tangan di atasnya, untuk menulis berlembar-lembar puisi tentangmu. Aku lupa kau pernah berkata bahwa rindu tidak boleh terlalu larut digenggam, dan cinta tak boleh setiap hari kukenakan. Tapi siapa yang peduli dengan perkataanmu. Jika kau memang peduli pada hati yang kini telah berlubang-lubang dikikisi namamu, kenapa tak sejak awal kau katakan padaku untuk tak menatap rembulan di wajahmu. Rembulan yang malam demi malam tidak pernah tertutup awan, yang tak membiarkanku tidur sepicing pun demi melihat cahayanya, cahaya yang membutakan. Jadi kau ini adalah rembulan yang menyanyikan lagu di sepanjang jalan malam yang kulalui menuju rumah, sepulang sekolah. Sekolah yang mengenalkan padaku tentang bulan. Sekolah yang melatih tanganku menulis namamu, dan yang mengajariku mengulang-ulang lagu itu. Lagu, yang sejak pertama hingga entah kapan akhirnya masih menj

Buat Aku Mengerti.

Buat apa berpaling ke belakang? Mereka bilang seperti itu. Tapi bolehkah sebentar kulihat untuk memastikan ia tak lagi menoleh? Agar tenang hatiku berjalan, bahwa tak ada harapan yang boleh dipegang. Aku paham, tapi hati tidak mau mengerti.

Dear, Komunikasi.

Gambar
Komunikasi layaknya rangkaian kata. Betapapun indah dan mengalir, ia tetap butuh spasi, butuh jeda, butuh waktu untuk kosong. Karena bila tanpa, akan gagu menerjemahkannya, akan sulit menangkap keanggunannya, akan bosan membacanya. Selamat, komunikasi kini telah tiada. Mungkin kita memang butuh spasi selamanya.

Mungkin Saja,

Aku melihat aku, di dalam dirinya.

Ganji+Ganjil=Genap

Kau bilang aku ganjil? Ya, kau juga. Ayo mari menjadi genap ;)

70 Hal Tentang Saya yang Selama ini (Mungkin) Rahasia-

Gambar
Saya yang ... - 1 - Mencintai hujan dan yakin tak dibuat sakit. 2 - Menyukai angin yang membuat saya terlihat mempesona. 3 - Suka berbicara sendiri di kamar mandi, seolah berbincang dengan orang lain yang juga diperagakan oleh saya.  4 - Mengagumi langit bagaimanapun wajahnya. 5 - Mencintai anak-anak dan berharap memiliki sendiri. 6 - Suka perjalanan romantis kereta api walau belum sempat mencobanya. 7 - Gemar ketinggian karena semua orang sombong bisa dikerdilkan. 8 - Senang mendapatkan surat cinta dari seorang tanpa nama. 9 - Entah kenapa sangat menyukai film India. 10 - Juga penyuka warna biru. 11 - Menghindari televisi. 12 - Tidak menyukai suara atau gerak lain saat tidur. 13 - Membenci emosi milik saya dan orang lain kepada siapa. 14 - Tak kuat berada di posisi menyakiti. 15 - Tidak suka selederi sama sekali. 16 - Benci mendapati diri sedang mengeluh. 17 - Sangat amat memusuhi asap rokok dan penghisapnya. 18 - Membenci pengemis yang masih kuat bekerja. 19 - Tidak menyukai ker

Seorang Guru Bagi Mereka: Tuna.

Aku di sini, bertahun-tahun. Mengamati, mengajari, memperbaiki, dan memperjuangkan. Mereka bilang aku membuang banyak waktu dengan pekerjaan bergaji sedikit ini, Mereka bilang aku membuang-buang tenaga dengan pekerjaan melelahkan ini. Mereka bilang aku membuang masa santai dengan pekerjaan penuh tantangan ini. Tapi aku bilang: Aku di sini, untuk mereka, juga untuk diri sendiri. Aku percaya bahwa Tuhan menciptakanku untuk mereka, dan mereka untukku. Aku berterima kasih karena Tuhan telah memilihku menjadi ibu bagi mereka. Karena senyum mereka, tawa mereka, tingkah nakal mereka, adalah semangat pagi yang mengalahkan terik sang surya. Terima kasih anak-anakku, telah mengajari ibu arti ketulusan Terima kasih telah mengajari ibu makna keikhlasan Terima kasih telah mengajari ibu cara menyempurnakan. Terima kasih telah mengajari ibu lembut perjuangan. Dan terima kasih, telah mengajari ibu symbol kehidupan. Ya, kalian adalah kehidupan.

-.-

"Semakin gelap malam semakin dekat pagi." Belajarlah kuat, Amy.

Langit yang Berubah Warna

Aku ingin tertawa, sekeras-kerasnya. Biar orang-orang berpikir bahwa dari mulutku ini hanya tawa yang bisa dikeluarkan. Biar orang-orang mengira aku tak pandai mengisak. Ah, Ibu, mengapa tak pernah kau ajarkan aku kuat melawan hidup yang begitu kejam ini? Mengapa kau tak pernah ingatkan aku bahwa orang-orang tak bisa dipercaya? Mengapa kau tak pernah ajarkan aku cara membenci orang-orang yang mengkhianati cinta? Aku jadi oleng, Ibu. Oleng di atas dua kaki kurus yang puluhan tahun berlatih berdiri tegak. Aku juga tak mengerti sejak kapan dia luka, kulihat lukanya pagi ini semakin menganga. Kurasa tak bisa diobati lagi. Apakah aku akan lumpuh, Ibu? Lumpuh dan tak bisa berlari lagi? Jika di dunia ini aku tak bisa berlari, ke mana aku bisa bersembunyi dari langit yang berubah warna menjadi tidak kusukai?

Tolong Sampaikan.

Gambar
Sampaikan permohonan maafku pada jodohmu suatu hari nanti karena telah berani menyempatkan hati mencintaimu. Tolong sampaikan.

Bila

Kau tinggalkan aku bersama kenangan. Aku lumpuh. Kau tongkat, dan aku cacat.

Jika Bintang dan Aku

Di luar dingin, aku sendirian, Tapi syukurlah ada bintang. Aku bertanya "Di mana bulan?" Ia diam. Aku pun tak melanjutkan pembicaraan. Kutahu, ia pun tahu. Lebih baik begini, menangis sendiri sendiri.

Karena Perempuan = Bahaya

Hey, kau. Hati-hati dalam memilih perempuan yang akan engkau cintai. Karena bagaimanapun, cinta itu memang buta. Maka sebelum kau dibuat buta, lihatlah dulu baik-baik.

Aku, Kau, Kenangan

Memang terlalu sulit, me lupa kan seseorang yang telah memberikan banyak hal untuk di ingat . Aku ingin lupa ingatan.

?!

Gambar
Kupeluk aku, Yang disaksikan diriku sendiri.

~

Bu, mataku berkhianat pada kantuk. Hatiku berkhianat pada ketegaran yang dulu ia janjikan. Dan, cintaku berkhianat pada kebahagiaan hidup.

Bu,

Bu, Kala langit menghitam, aku mengharap cahayamu. Kala dingin menggigilkan, aku mengharap hangatmu. Kala sakit menusuk, aku mengharap kelembutanmu. Kala panas menerik, aku mengharap sejukmu. Kala hidup berkhianat, aku mengharap nasihatmu. Kala harapan patah, aku mengharap senyumanmu. Kala rindu memekat, aku mengharap pertemuan denganmu. Hingga baru aku tersadar, bahwa aku menjadi sedemikian lemah. Selalu mengharap darimu, dan tak pernah absen.

Antara Persahabatan dan Pengkhianatan~

Mereka bilang, persahabatan dan pengkhianatan itu hanyalah siklus, dan bagiku semua itu benar. Awalnya, aku mungkin adalah satu-satunya di dunia ini yang paling mencintai persahabatan. Hingga dibuat lalai dari mengingat, bahwa antara kita dan kejujuran terdapat palung pemisah yang dalam. Kau bilang, kau sering bilang, bahwa aku adalah sahabat terbaik. Aku percaya, dan saat itu selalu percaya. Tapi, ke mana perginya dakwaan itu ketika kau mengkhianatiku?

Kau dan Waktu Sama Saja

Ke mana perginya waktu? Ke mana perginya kamu? Kau dan waktu sama saja Datang untuk pergi.

120213~

Gambar
Sudah hampir pukul 12.00 malam. Itu artinya beberapa puluh menit lagi tanggal 12 akan ditinggalkan. Jadi, sebelum kalender mengganti angkanya, saya harus segera menyalin puisi yang tadi pagi larut sekali kau kirimkan, supaya bisa dikenang, seperti biasanya: Hening malam menapaki sudut rana gadis belia Menelusuri tiang-tiang yang berdiri semakin kokoh Menyambut mentari di mana hari akan berganti Dari remaja menjadi sang dewasa. Bunga kan layu Senja kan gelap Mulus pun kan keriput, karena usia. Selamat hari lahir, sahabat Tak ada yang bisa kuberikan di hari bahagiamu Hanya persahabatan dan persaudaraan yang tulus tercurah. Semoga umurmu berkah Semoga hari-harimu indah Semoga menjadi pribadi yang lebih baik Selalu stiqomah dan semakin shalihah :) Terima kasih :') Kau tahu, tak ada yang lebih ingin kupinta daripada kau sebagai sahabat. Tidak lebih.

Mimpi Sepi Ini

Gambar
Aku belajar menceritakan kisahku pada bantal dan selimut di malam hari Tapi kasur masih menyimpannya hingga pagi, kupikir akan menguap dari balik mimpi . Aku resah mendengar rusuh hati yang enggan padam untuk sedikit saja memberiku ruang agar tenang Tapi saat semua diam, aku jadi merindukan rinduku sendiri Karena sungguh, tanpa kerinduan, aku semakin sepi . Aku berpikir bila saja aku mati. Memburu biru di langit yang tinggi, dan tak kembali lagi ke bumi. Mungkin akan lebih menyenangkan bila wajahmu semakin jauh dari retina yang selalu meyimpan cahaya wajahmu ini .

Kupilih Kamu

Jika kau bertanya, "Aku akan pilih lelaki tampan, lelaki baik, atau lelaki cerdas". Akan kujawab, "Lelaki cerdas". Kenapa bukan yang tampan, "Karena aku tidak cantik, jangan sampai dia pergi untuk yang lebih". Kenapa bukan yang baik, "Karena aku takut menyakiti yang baik". Lalu kenapa yang cerdas, "Karena kalau dia bodoh, dia tentu akan meninggalkanku". :D *kidding, ok? *tentu kupilih yang shalih.

Bisa?

Aku masih belajar menangis tanpa airmata.  Di mana orang-orang takkan tahu kapan aku menangis yang sesungguhnya.  Di mana aku tidak harus berlari ke sunyi hanya untuk menyembunyikan bunyi tangis ini.  Di mana aku tak harus lelah mengusap dan mengusap lagi.  Kau tahu aku harus belajar kepada siapa?

Kaca-Mata-Kata-Tanya

Gambar
Bila engkau yang hidup bersamaku-kau hidup untukku-aku hidup darimu, adalah seorang yang berkacamata. Akan kulepas kacamatamu dan kau lepas kacamataku. Lalu berdua tertawa karena wajah kita sama-sama rata. Kemudian kubertanya: "Bagaimana kita bisa hidup tanpa kacamata ini, ya"? Kau menggeleng dan menukar pertanyaanku, "Bagaimana aku bisa hidup tanpa kau, sementara kau adalah kacamata?

Cita-cita Bagi Anak-anakmu

Gambar
Aku memiliki banyak sekali mimpi yang kucatat saat usiaku menuju sepuluh tahun: pelukis, wartawan, polwan, pemadam kebakaran, dan perawat panti jompo. Namun kini, aku justru tersesat di dunia pendidikan yang mengharuskanku menjadi seorang guru. Maka kubisikkan pada tanganku, wahai engkau yang sedari dulu inginkan melukis, atau mencatat berita, atau memegang pistol, atau memadamkan api, atau yang menyuapi mulut-mulut renta tanpa gigi, berbahagialah karena kau hanya harus memegang pena. Pena yang kemudian akan kau bagi pada bocah-bocah untuk menuliskan namamu sebagai guru tak tertandingi. Dan tiba-tiba kupahami, semua yang pernah datang sebagai mimpi hanyalah pagar yang akan menuntunku menemui pintu. Pintu menjadi seorang guru, bagi anak-anakmu. Ya, anak-anakmu.

Kuusaikan

Aku tidak punya siapapun yang akan kutuliskan namanya di puisiku. Kau keberatan bila kupinjam?

Kau Tanya Kabar?

Aku tidak apa-apa. Hanya ada jutaan pasang kunang-kunang yang berhamburan dari mataku. Itu saja.

Seragam yang Kau Cuci Saban Hari

Gambar
Hati itu layaknya seragam putih, kawanku. Seharusnya kau keluhkan hatimu, bukan seragammu.

W~

I need you without knowing who you are.