Barokallah, untuk kakak pertamaku, kau telah menambahkan satu orang lagi ke dalam keluarga kita :) Barokallah, untuk kakak keduaku, terima kasih telah membuat lengkap anggota di dalam rumah kecil kita :) Dan untuk Ayah Ibu, selamat, anakmu mejadi tujuh orang sekarang :) Doakan, semoga anakmu yang bertiga ini segera menyusul, agar keluarga kita menjadi semakin lengkap :D
Aku suka saat-saat seperti ini, karena pukul 00.00 ke bawah adalah momment dimana aku bisa bebas, bukan bebas untuk tertawa terbahak-bahak, apalagi menangis sejadi-jadinya, tapi bebas meluapkan apa yang ingin aku tulis, karena seperti kebanyakan orang aku juga membutuhkan keheningan untuk berkonsentrasi. Aku tak akan menulis tentang kerinduan, karena tidak sedang merindukan siapapun, juga tak ingin bercerita tentang cinta, karena penaku mengeluh padanya, pun takkan menulis tentang kau, karena jemariku tak tahu cara mengeja namamu yang sok misterius itu. Aku hanya ingin menulis tentang diriku sendiri, tentang hidup yang kini aku berperan sebagai pelakon utama. Sebenarnya, aku tak mengenal siapa aku, bagaimana diriku dan kehidupan seperti apa yang akan aku hadapi. sedikit yang bisa ku tulis, karena sedikit yang aku kenali dari diriku, sedikit yang bisa ku sampaikan, karena tangan kananku tak bisa berjabat dengan tangan kananku sendiri. Artinya, aku buta untuk melihat diriku. Aku ...
Ibu, kau bernama Ibu... Nama agung yang Allah pilihkan untukmu Aku pun memanggilmu begitu Jika saja ada manusia yang paling tulus mencintaiku selain dirimu, tentu saja aku juga akan memanggilnya ibu, Tapi sayangnya tidak, hanya ada satu ibu di hatiku, tidak akan ada ibu lain. Kau tahu, Bu? Aku selalu mengingat kejadian malam itu, Saat aku dimarahi bapak Kau peluk aku yang bersimbah air mata, ketakutan Kau usap air mataku dengan kasih sayang Kau menenangkanku, menyejukkan... Aku hanya diam kala itu, tak bersuara, juga tak balik memelukmu Tapi jauh di dalam hatiku, ada kebahagiaan yang tak bisa diungkap Tangisanku semakin kencang, bukan karena Bapak Tapi karena sentuhan halusmu meraba permukaan cinta di hatiku, membangunkannya, membuatku sesak karena senang.. Aku juga ingat, Masih di malam, Saat kau mengaku telah tak sengaja membakar buku pentingku Aku menangis karenanya.. Setelah itu, kau bertanya tentang satu hal padaku namun tak ku beri jawaban karena masih ...
Komentar
Posting Komentar