Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2013

Mimpi Sepi Ini

Gambar
Aku belajar menceritakan kisahku pada bantal dan selimut di malam hari Tapi kasur masih menyimpannya hingga pagi, kupikir akan menguap dari balik mimpi . Aku resah mendengar rusuh hati yang enggan padam untuk sedikit saja memberiku ruang agar tenang Tapi saat semua diam, aku jadi merindukan rinduku sendiri Karena sungguh, tanpa kerinduan, aku semakin sepi . Aku berpikir bila saja aku mati. Memburu biru di langit yang tinggi, dan tak kembali lagi ke bumi. Mungkin akan lebih menyenangkan bila wajahmu semakin jauh dari retina yang selalu meyimpan cahaya wajahmu ini .

Kupilih Kamu

Jika kau bertanya, "Aku akan pilih lelaki tampan, lelaki baik, atau lelaki cerdas". Akan kujawab, "Lelaki cerdas". Kenapa bukan yang tampan, "Karena aku tidak cantik, jangan sampai dia pergi untuk yang lebih". Kenapa bukan yang baik, "Karena aku takut menyakiti yang baik". Lalu kenapa yang cerdas, "Karena kalau dia bodoh, dia tentu akan meninggalkanku". :D *kidding, ok? *tentu kupilih yang shalih.

Bisa?

Aku masih belajar menangis tanpa airmata.  Di mana orang-orang takkan tahu kapan aku menangis yang sesungguhnya.  Di mana aku tidak harus berlari ke sunyi hanya untuk menyembunyikan bunyi tangis ini.  Di mana aku tak harus lelah mengusap dan mengusap lagi.  Kau tahu aku harus belajar kepada siapa?

Kaca-Mata-Kata-Tanya

Gambar
Bila engkau yang hidup bersamaku-kau hidup untukku-aku hidup darimu, adalah seorang yang berkacamata. Akan kulepas kacamatamu dan kau lepas kacamataku. Lalu berdua tertawa karena wajah kita sama-sama rata. Kemudian kubertanya: "Bagaimana kita bisa hidup tanpa kacamata ini, ya"? Kau menggeleng dan menukar pertanyaanku, "Bagaimana aku bisa hidup tanpa kau, sementara kau adalah kacamata?

Cita-cita Bagi Anak-anakmu

Gambar
Aku memiliki banyak sekali mimpi yang kucatat saat usiaku menuju sepuluh tahun: pelukis, wartawan, polwan, pemadam kebakaran, dan perawat panti jompo. Namun kini, aku justru tersesat di dunia pendidikan yang mengharuskanku menjadi seorang guru. Maka kubisikkan pada tanganku, wahai engkau yang sedari dulu inginkan melukis, atau mencatat berita, atau memegang pistol, atau memadamkan api, atau yang menyuapi mulut-mulut renta tanpa gigi, berbahagialah karena kau hanya harus memegang pena. Pena yang kemudian akan kau bagi pada bocah-bocah untuk menuliskan namamu sebagai guru tak tertandingi. Dan tiba-tiba kupahami, semua yang pernah datang sebagai mimpi hanyalah pagar yang akan menuntunku menemui pintu. Pintu menjadi seorang guru, bagi anak-anakmu. Ya, anak-anakmu.

Kuusaikan

Aku tidak punya siapapun yang akan kutuliskan namanya di puisiku. Kau keberatan bila kupinjam?

Kau Tanya Kabar?

Aku tidak apa-apa. Hanya ada jutaan pasang kunang-kunang yang berhamburan dari mataku. Itu saja.

Seragam yang Kau Cuci Saban Hari

Gambar
Hati itu layaknya seragam putih, kawanku. Seharusnya kau keluhkan hatimu, bukan seragammu.

W~

I need you without knowing who you are.