Postingan

MencintaiMU Lebih...

Gambar
Andai aku bisa mencintaiMu lebih dari sekarang Andai aku bisa taat padaMu lebih dari sekarang dan andai aku bisa lebih sempurna dari sekarang... Dengarlah pintaku wahai Sang Raja hatiku... Biarkan tubuh lemah ini berdiri lebih tegap dalam menentang kebathilan... Karena sungguh, hingga saat ini aku masih terlalu takut dan gemetar... Biarkan tangan kecil ini menyingkap tabir kebenaran! Karena sungguh, hingga saat ini tangan kecilku masih senantiasa bersembunyi di balik punggungku.. Biarkan bibir kelu ini bersorak lantang untuk dakwahMu Untuk meneriakkan asmaMu! Karena sungguh, hingga saat ini bibirku masih senantiasa diam dan terkatup pucat ketika menghadapi ketidakadilan! Andai aku bisa... Tentu saja tubuh lemah ini akan lebih berguna Meski penyakit-penyakit yang Engkau datangkan kerap membuatku rapuh dan terbaring pasrah! Andai aku bisa... Tentu saja tangan kecil ini akan lebih bermaslahat untuk Islamku... Meski ia hanyalah dua belah tangan kecil milik seoran...

“Poetry Hujan: Hujan di Kelopak Matamu, Ibu..."

Gambar
Ibu, Kau yang selalu mengajarkan aku tentang ketegaran saat melawan Bapak Tapi hari itu, kau memperlihatkan mendung yang tertahankan di kelopak matamu padaku, Ia telah berubah menjadi gerimis, lalu hujan deras Aku mengusapnya perlahan, dalam remang kamar Tirus wajahmu, Ibu Membuatku selalu tak tega melihat kau meronta Hujan yang kau biarkan menetes di garis pipimu itu tak lebih dari sebuah sketsa Yang memperlihatkan bahwa lukisan hidup kita tak beranjak dari warna hitam Selalu hitam! Tak pernah ada warna lain yang menelusup Padahal aku inginkan hijau atau mungkin biru Tapi Kenapa hidup tak membiarkan hitam berubah bentuk di lukisan kita, Bu? Apakah karena kita tak layak mendapatkannya? Atau karena warna lain yang tak ingin singgah, meski hanya sekejab? Rumput di halaman rumah kitapun tak pernah mau berlama-lama menetap Sehari, dua hari, lalu mereka layu tak menentu Aku selalu bingung melihatnya Apakah rumputpun tak betah? Seperti yang aku dan Ibu rasa? Apakah memang seperti i...

Untukmu yang Merasa Gagal itu Mengecewakan...

Gambar
Tanyakan pada hati kecilmu, Kawan.. Sejauh mana kau dapat bertahan dalam kebijaksaan.. kebijaksaan untuk tetap bertepuk tangan pada kegagalan yang tengah kau saksikan.. Bukan mendengus kesal atau merobek nadi di tangan. Hidup memang seperti labirin, sangat tak terduga, tak terpikirkan, bahkan mungkin mengecewakan. Namun bila kau bisa lebih dewasa, berbaik sangka pada Yang Kuasa atas ketetapan yang diinginkanNYA, Mata jernihmu pasti dapat melihat, bahwa ketentuan yang dipilihkanNYA jauh lebih baik dari sketsa hidup yang bertahun-tahun telah kau lukis. Walau hati dangkalmu menyangkal... Sekali lagi ku katakan, kita adalah hamba, bukan Tuhan yang dapat menulis jalan hidup sendiri, walau IA yang Maha Bijak memberimu pensil untuk menulis, tapi kertas tempatmu meraba adalah milikNYA, IA bisa saja merobek, membakar, atau memang mewujudkannya... Tetaplah tersenyum, karena saat kegagalan itu menunjukkan taring menakutkannya, kau harus tahu, ia sedang mengajakmu bercanda, ...

Bagiku, Keinginan Menikah Dini itu, Anugerah...

Gambar
“Ini tidak konyol!” Timpalku pada diri sendiri. Memimpikan pernikahan di usia yang cukup dini, 18 tahun. Aku ingat bagaimana ekspresifnya seorang yang ku panggil kakak merespon keinginanku yang dia anggap berlebihan terhadap pernikahan, membuatnya seringkali mengomel dan menggerutu geram. “Aku tak habis pikir kenapa bisa seorang gadis semuda kamu sudah memikirkan pernikahan, ingat umur, Dik. Bahkan Aku yang tiga tahun lebih tua darimu belum sempat terpikir, coba pertimbangkan matang-matang dulu sebelum membuat daftar keinginan, agar kamu tidak berlaku ceroboh”. Seorang yang lain juga merespon keinginan ini dengan sudut pandang yang berbeda namun tetap pada prinsip yang sama, “Dik, saat kau sudah menikah nanti, di usia dini, anggaplah kau memang menikah di usia 20 tahun seperti inginmu, mau kau apakan anak-anakmu nanti? Aku suka tertawa geli memikirkan keadaan rumah tanggamu nanti, bukan tentang suamimu, tapi tentang anak-anakmu, bagaimana bisa seorang Ibu yang kekanak-kanakan m...

"Poetry Hujan: Mencintaimu dalam Diam, Seperti Hujan..."

Gambar
Seorang yang pendiam memiliki kharisma yang indah lagi anggun Aku pun ingin memiliki kharisma indah dan anggun dalam mencintaimu, dengan diam. Tak akan ada yang tahu, bahkan syaithan sekalipun! Karena ku takut ia akan mengubah cintaku menjadi benci Sementara aku ingin mencintaimu lebih dalam lagi. Hujan sore ini yang mengajarkannya padaku Bagaimana mencintai dalam diam, dengan begitu indah. Seperti ia mencintai tanah kering lalu mengubahnya menjadi basah dan subur Seperti ia mencintai sawah Seperti ia mencintai sungai Mengunjungi mereka dalam diam, tanpa sepatah katapun! Hujan hanya ingin memberikan kesejukan, kebermanfaatan, dan keindahan Tapi ia tak meminta balasan, walau aku yakin ia mengharapkannya. Tak mampu berkata apa Saat ku tatap wajah tampanmu yang menawan Belum menuju puas aku lantas memasukkan mataku ke dalam ketertundukkan, sambil Berucap “Subhanallah, Maha Suci Engkau yang telah menciptakan rupa seindahnya Ya Allah” Sungguh aku tak berani menatapmu...

Pada Cermin Mana Akan Aku Temukan Jawabnya, Kawan?

Gambar
Aku suka saat-saat seperti ini, karena pukul 00.00 ke bawah adalah momment dimana aku bisa bebas, bukan bebas untuk tertawa terbahak-bahak, apalagi menangis sejadi-jadinya, tapi bebas meluapkan apa yang ingin aku tulis, karena seperti kebanyakan orang aku juga membutuhkan keheningan untuk berkonsentrasi. Aku tak akan menulis tentang kerinduan, karena tidak sedang merindukan siapapun, juga tak ingin bercerita tentang cinta, karena penaku mengeluh padanya, pun takkan menulis tentang kau, karena jemariku tak tahu cara mengeja namamu yang sok misterius itu. Aku hanya ingin menulis tentang diriku sendiri, tentang hidup yang kini aku berperan sebagai pelakon utama. Sebenarnya, aku tak mengenal siapa aku, bagaimana diriku dan kehidupan seperti apa yang akan aku hadapi. sedikit yang bisa ku tulis, karena sedikit yang aku kenali dari diriku, sedikit yang bisa ku sampaikan, karena tangan kananku tak bisa berjabat dengan tangan kananku sendiri. Artinya, aku buta untuk melihat diriku. Aku ...

Dia...

Gambar
Dia... wanita yang kerudungnya menyapa angin pagi... Dia... wanita yang memiliki senyum indah luar biasa... Dia... yang matanya selalu menatap tanah setiap melewati jalanan... Dia... yang wajahnya semakin membayang, berkelabat di alam bawah sadarku... Dia... wanita sholeha terjaga bak bidadari sorga... Duhai... siapakah lelaki beruntung sedunia yang mendapatkan hatinya... Duhai... siapakah lelaki beruntung sedunia yang halal menggenggam tangannya... Duhai... siapakah lelaki beruntung sedunia yang bisa bebas menikmati indah wajah telaganya, indah santun perilakunya, indah lembut suaranya... Dia... wanita yang tertutup rapi seluruh keindahan tubuhnya... Dia... wanita yang hijabnya begitu terjaga.... Dia... wanita yang tak mampu diintip kecantikan parasnya... Dia... wanita yang kini menjadi penyemangat hariku... Semoga Allah menganugrahi seorang lelaki terbaik untukmu, Murobbiyahku...