Postingan

Kita SAHABAT, Karena ALLAH

Gambar
  Aku ingin menyisihkan satu halaman di buku hidupku untuk memuat cerita tentangmu Tentang warna kesukaanmu, tentang makanan favoritmu, tentang ukuran sepatumu, tentang kebiasaan burukmu, tentang gaya bicaramu, bahkan manis senyummu... Kau menyukai warna hijau Ukuran sepatumu 42 Makanan favoritmu mie goreng porsi double dengan cabe melimpah Kebiasaan burukmuuuuu, huh! aku sukar mengingatnya... Karna semua tentangmu terlihat indah di mataku. Oh, baiklah Kau suka lupa memakai jaket saat berkendara, hingga aku sering memarahimu ngotot! Kau suka berbicara dengan keras, hingga orang-orang menduga kau sedang marah, ya, kan? Hmm, senyum manismu itu selalu memikat, dalam pandanganku... Senyum terindah yang hanya untukku... Oh, Tak lama! Keindahan itu tak lama... Aku yang mengakhirinya, karena Allah... Kau sakit, kan? Kau menangis? Aku juga, wallahi, aku juga! Tapi kau kuat, aku tahu itu! Kini, jalan kita sudah berbeda Aku memilih kanan, dan kau kanan yang lainnya Kita terpisah, seme...

Berhentilah Menggangguku Hei, Kau yang di Sana!

Gambar
Pertemuan tiba-tiba ini membuat aku tersedak, tulang-tulang di tubuhku seolah melonggar, jemariku bergetar, dan jantung ini seperti akan lepas dari tempatnya. Kau membuat pandanganku nanar, semua warna seakan kehilangan cerahnya, biru mengelabu, hijau memutih, bahkan air hujan terlihat seperti hitam. Berhentilah memasuki fikiranku! aku ingin berkonsentrasi dengan semua aktifitas ini, dan kau mengacaukannya dalam sekejab! Jika ada yang patut disalahkan atas semua ketidakberesan ini, kaulah orangnya! Hebat! kau memang hebat dari dulu, selalu berhasil membuatku takluk, membutakan semua pandanganku, menulikan pendengaranku, dan membisukan lisanku. Siapa kau yang berani mengusik ketenangan hidupku, hah? bahkan kau tak membiarkan tidurku nyenyak barang sedetik... Berhentilah menggangguku hei, laki-laki! Siapapun dirimu, aku sedang ingin sendiri Ini bukan waktunya untukmu bermain dalam fikirku. Belum waktunya! Datanglah di saat yang tepat, ku mohon!! JANGAN SEKARANG...   ...

Poetry Hujan: Kuburanmu Ada di Hatiku

Gambar
Apa mau dikata? Wajahmulah yang senantiasa ada.. Dalam sepi dan sesak Dalam gelap dan terang Dalam damai dan rusuh Dalam jernih dan keruh Dalam hangat dan gigil Dalam tidur dan jaga Dalam khayal dan sadar Dalam tangis dan tawa Dalam panas dan hujan Dalam sakit dan segar Dalam putih dan hitam Dalam rintik dan lebat Dalam riuh dan hening Dalam duduk dan telentang Dalam desir dan badai Dalam senyap dan kosong Dalam resah dan air mata Dalam takut dan gemetar Dalam ribut dan tenang Dalam merah dan mega senja Dalam pagi dan siang Dalam sore dan malam Dalam larut dan shubuh Dalam do'a dan harap Dalam mimpi dan asa Dalam ego dan cinta Dalam marah dan cemburu Dalam sendu dan rindu Dan dalam malu serta tersipu... Oh, Kau selalu ada, terlalu mendominasi! Hingga aku tak sempat bernafas Hingga aku tak memiliki jeda Hingga aku tersudut Hingga aku ternganga Lalu siapa yang bisa disalahkan? Padahal mataku tak tahu caranya melihat sosok teduhmu Padahal t...

Cinta Itu Bernama Keluarga

Gambar
Ibu, kau bernama Ibu... Nama agung yang Allah pilihkan untukmu Aku pun memanggilmu begitu Jika saja ada manusia yang paling tulus mencintaiku selain dirimu, tentu saja aku juga akan memanggilnya ibu, Tapi sayangnya tidak, hanya ada satu ibu di hatiku, tidak akan ada ibu lain. Kau tahu, Bu? Aku selalu mengingat kejadian malam itu, Saat aku dimarahi bapak Kau peluk aku yang bersimbah air mata, ketakutan Kau usap air mataku dengan kasih sayang Kau menenangkanku, menyejukkan... Aku hanya diam kala itu, tak bersuara, juga tak balik memelukmu Tapi jauh di dalam hatiku, ada kebahagiaan yang tak bisa diungkap Tangisanku semakin kencang, bukan karena Bapak Tapi karena sentuhan halusmu meraba permukaan cinta di hatiku, membangunkannya, membuatku sesak karena senang.. Aku juga ingat, Masih di malam, Saat kau mengaku telah tak sengaja membakar buku pentingku Aku menangis karenanya.. Setelah itu, kau bertanya tentang satu hal padaku namun tak ku beri jawaban karena masih ...

Aku Membunuh Diriku Sendiri dengan Al-Qur'an (Kisah Hijrah)

Gambar
Izinkan aku bercerita, sedikit saja tentang penggalan hidup yang pernah kulewati, karena kau adalah sahabat, maka cerita ini akan kubagi. Aku adalah seorang perempuan, kau tahu itu? Mungkin pernyataanku terdengar absurd, tapi aku memiliki maksud, agar kau yakin bahwa aku memanglah perempuan, bukan laki-laki, atau campuran dari keduanya. Ini adalah pernyataan yang kau dengar sekarang, bukan belasan tahun yang silam, di saat aku masih ingusan, berpikiran dangkal, namun keras tak terkatakan. Aku dilahirkan dari rahim seorang Ibu pada tanggal 12 Februari, 18 tahun yang silam, sebagai seorang perempuan, biar kuyakinkan sekali lagi, sebagai seorang perempuan! Tapi ketika mulai mampu berpikir dan menentukan pilihan, aku memilih untuk menjadi laki-laki, jangan kaget. Aku membenci kelahiranku yang menjadikanku perempuan, karena aku ingin menjadi laki-laki, seutuhnya, tidak setengah-setengah.. Untuk mewujudkan inginku, selalu kukenakan pakaian laki-laki, jeans robek dan kaos...

MencintaiMU Lebih...

Gambar
Andai aku bisa mencintaiMu lebih dari sekarang Andai aku bisa taat padaMu lebih dari sekarang dan andai aku bisa lebih sempurna dari sekarang... Dengarlah pintaku wahai Sang Raja hatiku... Biarkan tubuh lemah ini berdiri lebih tegap dalam menentang kebathilan... Karena sungguh, hingga saat ini aku masih terlalu takut dan gemetar... Biarkan tangan kecil ini menyingkap tabir kebenaran! Karena sungguh, hingga saat ini tangan kecilku masih senantiasa bersembunyi di balik punggungku.. Biarkan bibir kelu ini bersorak lantang untuk dakwahMu Untuk meneriakkan asmaMu! Karena sungguh, hingga saat ini bibirku masih senantiasa diam dan terkatup pucat ketika menghadapi ketidakadilan! Andai aku bisa... Tentu saja tubuh lemah ini akan lebih berguna Meski penyakit-penyakit yang Engkau datangkan kerap membuatku rapuh dan terbaring pasrah! Andai aku bisa... Tentu saja tangan kecil ini akan lebih bermaslahat untuk Islamku... Meski ia hanyalah dua belah tangan kecil milik seoran...

“Poetry Hujan: Hujan di Kelopak Matamu, Ibu..."

Gambar
Ibu, Kau yang selalu mengajarkan aku tentang ketegaran saat melawan Bapak Tapi hari itu, kau memperlihatkan mendung yang tertahankan di kelopak matamu padaku, Ia telah berubah menjadi gerimis, lalu hujan deras Aku mengusapnya perlahan, dalam remang kamar Tirus wajahmu, Ibu Membuatku selalu tak tega melihat kau meronta Hujan yang kau biarkan menetes di garis pipimu itu tak lebih dari sebuah sketsa Yang memperlihatkan bahwa lukisan hidup kita tak beranjak dari warna hitam Selalu hitam! Tak pernah ada warna lain yang menelusup Padahal aku inginkan hijau atau mungkin biru Tapi Kenapa hidup tak membiarkan hitam berubah bentuk di lukisan kita, Bu? Apakah karena kita tak layak mendapatkannya? Atau karena warna lain yang tak ingin singgah, meski hanya sekejab? Rumput di halaman rumah kitapun tak pernah mau berlama-lama menetap Sehari, dua hari, lalu mereka layu tak menentu Aku selalu bingung melihatnya Apakah rumputpun tak betah? Seperti yang aku dan Ibu rasa? Apakah memang seperti i...