Ibu, Kau yang selalu mengajarkan aku tentang ketegaran saat melawan Bapak Tapi hari itu, kau memperlihatkan mendung yang tertahankan di kelopak matamu padaku, Ia telah berubah menjadi gerimis, lalu hujan deras Aku mengusapnya perlahan, dalam remang kamar Tirus wajahmu, Ibu Membuatku selalu tak tega melihat kau meronta Hujan yang kau biarkan menetes di garis pipimu itu tak lebih dari sebuah sketsa Yang memperlihatkan bahwa lukisan hidup kita tak beranjak dari warna hitam Selalu hitam! Tak pernah ada warna lain yang menelusup Padahal aku inginkan hijau atau mungkin biru Tapi Kenapa hidup tak membiarkan hitam berubah bentuk di lukisan kita, Bu? Apakah karena kita tak layak mendapatkannya? Atau karena warna lain yang tak ingin singgah, meski hanya sekejab? Rumput di halaman rumah kitapun tak pernah mau berlama-lama menetap Sehari, dua hari, lalu mereka layu tak menentu Aku selalu bingung melihatnya Apakah rumputpun tak betah? Seperti yang aku dan Ibu rasa? Apakah memang seperti i...
Komentar
Posting Komentar